Selasa, 22 Maret 2011

Islam, Education and Civilization

A.   Background
Islam is not merely a religious symbol but a doctrine that comes from God which reflect ideas for education to guide, to lead human beings so that they can become a perfect man (al-Insan al-Kamil). As a universal religion that Islam has provided guidelines for human life to happiness, which can be achieved by a process of education as a whole, because education is an important key to open the way human life.
Islam and education is a substance that can not be separated. Education serves as a tool to create goals and Islam provide the foundation and teachings to develop various ideas about Islamic education. Education in the Islamic context in accordance with that mentioned by Al-Farabi has a lot of concepts that include the at-Tarbiyyah, at-ta’lim, and at-ta'dib. Each term has the same meaning and understanding of different, although similar meaning in certain things.

Minggu, 13 Maret 2011

Pemerintahan Sistem Adat


Sampai dengan terdamparnya Franscisco Serrao pemimpin misi penyelidik Portugis pada permulaan tahun
1512 M di bagian utara pulau Ambon, masih  dijumpai pemerintahan desa tertua dengan sistem adat di
pulau Ambon, yaitu pada kelompok masyarakat Tanahitu.
Imam Rijali di dalam alkisah V menjelaskan tentang pemerintahan Upu Hata: (Empat Perdana) sebagai berikut:
Alkisah peri mengatakan tatkala keempat perdana mufakat itu menjadi suatu negeri  dan keempat kampung  serta dipindahkan nama keempat itu, adapun zamanjadi dipindahkan totohatu namanya dan perdana mulai dipindahkan tanehitumesen namanya, perdana jamilu dipindahkan nusatapi namanya, kiyai pati dipindahkan pati tuban namanya. itulah dimasyhur nama keempat itu dalam tanahitu dan bernyanyi-nyanian serta berputusan, barang sesuatu pekerjaan dalam tanahitu maka mufakatlah keempatnya lalu dikerjakan dan tiada lain lagi dari keempat perdana itu. itulah seperti emas tiada dengan sepuhnya lagi. adapun keempat perdana itu jikalau dinamai bendaharapun benar juga dan dinaikkan kerajaanpun patut juga dari pada bangsyanya datang itu. karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan melainkan melakukan kehendaknya. Itulah kenyataan empat bangsya itu.[1]

Asal-usul Masyarakat Ambon


Penduduk pulau Ambon adalah para pendatang yang berasal dari berbagai suku atau daerah. Dalam kalangan masyarakat Ambon dikenal istilah ”penduduk asli”, dan ”penduduk pendatang”. Penyebutan ”asli” digunakan bagi mereka yang pertama-tama datang dan mendiami pulau Ambon, sedangkan ”pendatang” ditujukan untuk mereka yang datang kemudian. Dalam pengertian seperti ini, maka dalam cerita-cerita rakyat, asal-usul penduduk asli digambarkan sebagai manusia yang paling mulia dan suci, memiliki kekuatan-kekuatan tertentu dan diturunkan dari langit oleh penguasa alam semesta.
            Frank L. Cooley menyebut kaum pendatang dengan sebutan ”pendatang lama”. Untuk membedakan dengan ”pendatang baru” yang oleh pertimbangan tertentu tidak memiliki hak yang sama dengan penduduk lama, umpamanya tidak memiliki hak atas tanah, kedudukan atau pergantian kekuasaan, dan dalam batas tertentu mereka adalah ”orang-orang asing” dan tetap demikian hingga saat ini.