Sampai dengan terdamparnya Franscisco Serrao pemimpin misi penyelidik Portugis pada permulaan tahun
1512 M di bagian utara pulau Ambon, masih dijumpai pemerintahan desa tertua dengan sistem adat di
pulau Ambon, yaitu pada kelompok masyarakat Tanahitu.
1512 M di bagian utara pulau Ambon, masih dijumpai pemerintahan desa tertua dengan sistem adat di
pulau Ambon, yaitu pada kelompok masyarakat Tanahitu.
Imam Rijali di dalam alkisah V menjelaskan tentang pemerintahan Upu Hata: (Empat Perdana) sebagai berikut:
Alkisah peri mengatakan tatkala keempat perdana mufakat itu menjadi suatu negeri dan keempat kampung serta dipindahkan nama keempat itu, adapun zamanjadi dipindahkan totohatu namanya dan perdana mulai dipindahkan tanehitumesen namanya, perdana jamilu dipindahkan nusatapi namanya, kiyai pati dipindahkan pati tuban namanya. itulah dimasyhur nama keempat itu dalam tanahitu dan bernyanyi-nyanian serta berputusan, barang sesuatu pekerjaan dalam tanahitu maka mufakatlah keempatnya lalu dikerjakan dan tiada lain lagi dari keempat perdana itu. itulah seperti emas tiada dengan sepuhnya lagi. adapun keempat perdana itu jikalau dinamai bendaharapun benar juga dan dinaikkan kerajaanpun patut juga dari pada bangsyanya datang itu. karena ia itu tiada dibesarkan dan tiada dihinakan dan tiada dinaikan dan tiada diturunkan melainkan melakukan kehendaknya. Itulah kenyataan empat bangsya itu.[1]
Selanjutnya dalam alkisah VI dijelaskan:
Alkisah peri mengatakan dari pada pihak rakyatnya tiga puluh ponggawanya yang besar ialah mengerjakan sesuatu pekerjaan daripada keempat perdana. lain dari pada itu tidak dimasukan sehinga ta’luk namanya.apabila kepada suatu pekerjaan maka keempat perdana mufakat dahulu, tellah sudah mufakat maka dimasukan tiga kaum dahulu kemudian daripada tiga itu maka dimasu-kan tujuh punggawanya serta tiga puluh gelarannya. Itulah diadatkan zaman datang kepada zaman turun-temurun tiada berubah lagi. Itulah kesudahan-nya.[2]
Dari informasi Rijali di atas dapat diketahui bahwa di pulau Ambon bagian Utara terdapat pemerintahan (kerajaan) dengan sistem pemerintahan Upu Hata atau Empat Perdana. Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada tahun 1470 atau pada penghujung abad XV Masehi.
Kerajaan Tanahitu diperintah oleh suatu badan yang disebut Upu Hata atau ”Empat Perdana” yaitu empat orang pejabat dari empat rumpun keluarga terpenting yaitu, Pati Selan Binaur dari rumpun keluarga Soupele, Perdana Mulai dari rumpun keluarga Waipaliti, Perdana Jamilu dari rumpun Keluarga Latim dan Kiyai Pati atau Pati Putih dari rumpun keluarga Olong. Keempat perdana ini mempunyai gelar yang dipakai selama mereka memegang jabatan itu. Gelar yang pertama ialah Totohatu, yang kedua adalah Tanihitumesen, ketiga adalah Nusatapi dan keempat adalah Pati Tuban.
Pemerintahan sehari-hari dijalankan oleh tujuh orang punggawa yang masing-masing adalah tokoh terpenting dari tujuh Uli, yaitu Uli Halawan, Uli Saylesi, Uli Sawani, Uli Hatunuku, Uli Ala atau Leala, Uli Nau Binau dan Uli Solemata. Keturunan ke tujuh Uli ini kini mendiami wilayah Kecamatan Leihitu dan Kecamatan Salahutu yang dulu kala disebut Tanahitu. Ponggawa-ponggawa itu mempunyai pembantu-pembantu yaitu Amanopunyo atau pemimpin aman yang disebut galarang[3] sebanyak tiga puluh orang dan terdapat pula kepala atau pemimpin-pemimpin Uku yang disebut Tamataela atau Tamaela.
Terdapat pula jabatan dengan gelar Raja Hitu yang biasanya menjadi penengah dalam perundingan-perundingan yang diadakan oleh para Perdana. Imam Rijali melalui alkisah X memperkenalkan jabatan raja ini dengan gelar Latu Sitania yang berarti ”Raja Tanya”. Sedangkan menurut Manusama raja tersebut bertugas memberi undangan (audiensi) kepada seluruh Negeri. Raja Hitu pertama menurut Rumphius adalah seorang putra mahkota dari Tuban dari Lumatau Kyai Tuli.[4]
Untuk urusan perdagangan terdapat seorang tokoh dengan gelar Kapitan Hitu. Menurut Richard Z. Leirissa, jabatan ini adalah ciptaan Portugis untuk melancarkan hubungan perdagangannya dengan kerajaan Tanahitu.[5] Kapitan Tanahitu pertama adalah Perdana Nusatapi, sedangkan Kapitan Tanahitu yang terakhir yang dijumpai oleh orang-orang Belanda pada tahun 1601 adalah Tepil putra Abubakar Nasediki (Healatu) yang memegang jabatan tersebut sampai tahun 1633. Setelah itu terjadi pemberontakan rakyat Tanahitu melawan Belanda yang dikenal dengan nama Perang Tanahitu I/Perang Wawani (1634-1643) dan Perang Tanahitu II/Perang Kapahaha (1643/1646) yang menyebabkan dibubarkannya pemerintahan Empat Perdana (Upu Hata) oleh Gerard Demmer, Gubernur Hindia Belanda di Ambon pada tahun 1646 M. Tepil juga adalah perdana terakhir dari Lumatau Latim.
Selain kapitan terdapat pula jabatan qadhi dan hukom. Setelah pemerintah Tanahitu membangun masjid ”tujuh pangkat”[6] maka diangkatlah Maulana Ibnu Ibrahim dari keluarga Tanahitumesen sebagai imam sekaligus qadhi sedangkan jabatan hukom diserahkan kepada Abubakar Nasedeki dari keluarga Nusatapi.
Tentang kapan terjadinya aliansi di antara kelompok imigran untuk mendiri-kan kerajaan Tanahitu kurang begitu diketahui dengan pasti. Imam Rijali[7] dalam alkisah VIII menyebutkan adanya kesepakatan dari Empat Perdana (Upu Hata) untuk mengirim Pati Tuban belajar agama Islam ke Jawa. Di Jawa (Giri-Gresik) Pati Tuban bertemu dengan Zainal Abidin ketika belum menjabat sebagai Sultan Ternate dan nanti pada tahun 1486-1500 M., baru diangkat menjadi Sultan Ternate. Berdasarkan kenyataan ini maka dapat diduga bahwa pada permulaan abad XV M., Kerajaan Islam Tanahitu telah berjaya dapat memainkan peran penting dalam berbagai bidang kehidupan terutama dalam pendalaman dan pengembangan ajaran Islam. Hal ini berarti aliansi di antara para imigran untuk membangun sebuah kerajaan telah berlangsung lama sebelum abad XV M. Indikator ke arah ini dapat ditelusuri dari terciptanya hubungan diplomatik dengan daerah (kerajaan) lain dan pengiriman murid-murid untuk belajar agama di luar kerajaan Tanahitu. Informasi lain dapat diperoleh melalui Tim Penerbit Profil Propensi Republik Indonesia yang menyebut-kan bahwa antara tahun 1300-1400 M., Tanahitu telah menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Maluku.[8] Informasi ini dapat lebih memperkuat alasan bahwa jauh sebelum datangnya bangsa Eropa (Portugis) untuk pertama kali di pulau Ambon (Tanahitu) telah terjadi aliansi yang kuat untuk mendirikan sebuah pemerintahan dalam bentuk kerajaan, dan Islam telah menjadi agama masyarakat Tanahitu.
Perjalanan selanjutnya dari pemerintahan ”Empat Perdana” (Upu Hatta) terhambat akibat berbagai peperangan yang dilakukan untuk melawan Portugis maupun Belanda. Puncaknya, ditandai dengan jatuhnya benteng Kapahaha pada tanggal 25 Juli 1646. Gubernur Hindia Belanda di Ambon, Gerard Demmer bertindak secara radikal dengan melenyapkan fungsi dari keempat perdana untuk selama-lamanya. Uli-uli yang ada diceraiberaikan dan saat itu tidak dikenal lagi masyarakat geneologi, tetapi hanya masyarakat teritorial. Uli keturunan keempat Hitu dihapuskan keseluruhannya dan seluruh kegiatan dari ”Empat Perdana” dilarang. Beberapa keturunan Uli ketiga menjadi negeri, sedangkan yang lainnya dibubarkan, dimana aman, soa atau negeri yang berdiri sendiri, terjadi dari negeri yang baru. Kepala dari negeri-negeri baru ini tidak boleh ikut campur lagi dengan aman yang sebelumnya adalah uli-uli keturunan ketiga. Semua Latu menjadi kepala negeri. Beberapa dari Amanopunyo juga menjadi kepala negeri sedangkan kepala-kepala soa yang lain dikembalikan kedudukannya sehingga disejajarkan dengan para tamaela yang sekarang menjadi kepala-kepala soa. Sebaliknya Uku-Uku kehilangan posisi sebagai tamaela/kepala soa di negeri yang baru, sejak itu raja Hitu menjadi kepala negeri Hitulama[9], bersama dengan kepala dari keturunan perdana-perdana Tanihitumessing, sehingga bagian dari negeri itu sekarang disebut negeri Hitumessen. I.O. Namulaita[10] menyebut tindakan Demmer ini sebagai proses penghancuran pemerintahan desa atau dorpsrepublieken yang telah berurat berakar dalam masyarakat Hitu. Tindakan ini mengakibatkan terciptanya suatu kondisi ”the missing link”, yang memutuskan mata rantai hubungan geneologi masyarakat Hitu yang berakibat putusnya hubungan nilai-nilai historis yang mestinya terus dipelihara sebagai bagian dari upaya melestarikan kebesaran dan kemegahan kerajaan Hitu, khususnya pemerintahan ”Empat Perdana” (Upu Hata).
Beberapa tokoh yang telah berperan dalam sejarah Hitu dari lumatau ”Empat Perdana” pemimpin Hitu seperti yang ditulis oleh Imam Rijali, Rhumpius, Tiele maupun Heeres dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Totohatu
Imam Rijali[11] dalam Hikayat Tanah Hitu” menyebutkan bahwa, kecuali Zamanjadi terdapat pula dua Perdana Totohatu yaitu putra Zamanjadi seorang pejuang utama dalam pertempuran melawan Portugis dibawah pimpinan Don Duarte de Meneses pada tahun 1569 dan yang satunya lagi disebut sebagai Mardan Mulutan yang menjadi Perdana Totohatu pada tahun 1633. Imam Rijali tidak menyebut dengan jelas nama mereka, yaitu putranya zamanjadi maupun mardan mulutan. Informasi yang dapat memberi petunjuk bagi kemungkinan nama kedua perdana Totohatu itu bersumber dari tulisan Heeres[12], yang menyebut adanya Perdana Soulisa dan Heatomu. Nama yang disebut terakhir ini selain menjabat perdana Totohatu, juga diangkat menjadi kapitan Hitu pada pertemuan rahasia di benteng Kapahaha pada tahun 1643. Keterangan selanjutnya dari Lumatau ini tidak ada dan hilang begitu saja.
b. Tanihitumessing
Sipamole adalah perdana pertama dari lumatau perdana Tanihitumessing, yang gugur sebagai syuhada pada tahun 1538 saat bertempur melawan Portugis pimpinan Diogo Lopez de Azavedo. Untuk jasa kepahlawanannya diberi gelar Tubanbesi.[13] Untuk melanjutkan perjuangannya diangkat putra sulungnya Horasan atau Maraulisa yang pada tahun 1588 diangkat menjadi ketua dari ”Empat Perdana”. Selanjutnya Horasan diganti oleh putranya Kalebau yang berkuasa saat datangnya orang-orang Belanda di Maluku kira-kira tahun 1599. Pelanjut Kalebau adalah putranya Latu Kayoan yang disebut sebagai orang kaya Tua perdana Tanihitumessing. Setelah menderita sakit yang cukup lama, meninggal pada bulan Juni 1644.
Ketika Sipamole meninggal, gelar Tubunbesi tidak diserahkan kepada putra sulungnya Horasan, yang menjabat sebagai perdana Tanihitumessing tapi diserahkan kepada putranya yang lain bernama Tahalele yang pada tahun 1588-1602 berperang melawan Portugis dengan penuh keperkasaan. Pedang yang dipakainya mendapat gelar Lukululi.[14] Peperangan terakhir yang dilakukan Tahalele melawan Portugis adalah ketika melawan pasukan pimpinan Andre Purtado de Mendosa pada tahun 1602. Sesudah itu, bersama Patilima dari lumatau perdana Pati Tuban dibawa oleh Portugis ke Tidore, kemudian kepala mereka dipenggal.
Gelar Tubanbessi kemudian diwarisi oleh putra Tahalele bersama Samusamu dengan gelar Tubanbessi III. Berbeda dengan Latu Kayoan, Samusamu justru bekerjasama dengan lumatau perdana Nusatapi dan ketika Tepil perdana dari lumatau Nusatapi pada tahun 1628 berangkat ke Batavia menemui gubernur Belanda Jan Pieterzoon Coen, jabatan kapitannya tidak diserahkan kepada putranya Halaene tapi diserahkan kepada Samusamu. Akibatnya timbul kecemburuan dihati Halaene yang menyebabkan Samusamu bersama aman Hausihol dan sebahagian dari Hitulama pindah dan berdomisili di Kapahaha yang di kemudian hari menjadi benteng pertahanan terakhir dari uli Hitu ketika melawan Belanda.
Tahun 1630 Samusamu wafat, perjuangan dilanjutkan oleh putra tertuanya Telukbessi dengan gelar Tubanbesi IV. Telukibesi selain menikah dengan putrinya Tamalesy orang kaya Wakal yang bernama Almina, juga menikah dengan Lorina putri pembesar Belanda yang setelah masuk Islam berganti nama menjadi Kotijah. Istri berkebangsaan Belanda ini tewas di benteng Kapahaha ketika benteng itu dihancurkan oleh pasukan Belanda pimpinan Verrast pada tanggal 25 Juli 1646. Telukibessi untuk beberapa saat lamanya mengembara di hutan Hitu, kemudian menyeberang ke Hatuhaha di pulau Haruku. Namun sesudah itu kembali ke Hitu dan menyerahkan diri kepada Belanda. Pada tanggal 1 September 1646, Telukibesi diadili dan dua hari kemudian ditembak mati di lapangan benteng. Selain itu, putranya Duljalal dan Palakolan bersama saudara laki-laki Telukibessi, yaitu Sekatikan atau Teaka, Tulesi, Usen dan Alan dibuang ke Jawa.
Sibori, saudara laki-laki Samusamu adalah tokoh dari lumatau perdana Tanihitumessing yang pada tahun 1604 bersama hukom Mihirjiguna dari lumatau perdana Nusatapi pergi ke Jawa meminta bantuan Belanda melawan Portugis. Namun pada saat saudaranya dihukum dan dibuang ke Jawa tidak terlihat peranan Sibori sebagai mediator antara rakyat Hitu dan Belanda. Apakah pada saat itu Sibori telah meninggal tidak terdapat keterangan yang jelas.
Tokoh lain dari lumatau perdana Tanihitumessing adalah Ralim yang pada tahun 1644 secara rahasia dinobatkan sebagai Tanihitumessing. Namun setelah jatuhnya benteng Kapahaha, Ralim hanya menjadi kepala dari Waipaliti. Ia mendapat pangkat orang kaya dari Ternate oleh karena ia lahir disana dan mempunyai ibu orang Ternate.
c. Nusatapi
Perdana pertama dari lumatau perdana Nusatapi adalah Jamilu, yang dikenal juga dengan gelaran Tahalele Ela, Patinggi, Dom atau Don, Kapitan dan lelaki bijaksana.
Gelaran Tahalele ela yang berarti Tahalele besar diberikan kepadanya untuk menunjukkan keberaniannya melawan penjajah, juga untuk membedakan dengan cucunya yang juga bernama Tahalele anak dari Abubakar atau Healatu yang juga sangat berperan dalam sejarah Hitu.
Patinggi adalah akronim dari Kipati Tinggi sebuah gelaran yang diberikan oleh Nyai Bawang atau Ratu Nyamat yang menjadi ratu di Jepara pada sekitar abad XVI. Sedangkan gelaran Dom atau Don adalah gelaran bagi bangsawan Portugis yang diberikan oleh Fransisco Serrao[15] kepada Jamilu dalam tahun 1512, yang telah bertindak sebagai juru bicara (mediator) pada pertemuan pertama antara pemimpin masyarakat Hitu dan Portugis. Selain gelaran Dom atau Don juga diberi gelaran capitao atau kapitan, yang oleh Paramita R. Abdurrahman[16] memperikirakan mungkin Serrao mengira bahwa Jamilu merupakan kepala pemerintahan dan panglima perang Hitu. Imam Rijali menyebutnya Jamilu selain cerdas juga dikenal sebagai orang yang sangat bijaksana yang berhasil menyelesaikan atau sebagai penengah (mediator), mendamaikan pertikaian antara kaum Zamanjadi (pendatang pertama) dengan kaum perdana Mulai (pendatang kedua). Dalam usahanya untuk mendamaikan pertentangan di antara kedua kelompok ini, Jamilu tidak saja berhasil mendamaikan mereka, tetapi juga berhasil mengajak keempat kelompok kaum pendatang untuk mendirikan kerajaan Hitu. Jamilu dengan kebijaksanaannya berhasil mengatasi perselisihan antara masyarakat Hitu dengan Portugis takkala seorang opsir rendahan Portugis berlaku kurang ajar terhadap Jamilu pada suatu jamuan yang diberikan para perdana Hitu guna menghormati orang Portugis yang membantu Hitu menahan serangan Alifuru dari Seram. Untuk meredam amarah orang-orang Hitu, maka Jamilu mengasingkan orang-orang Portugis dari Hitu dan mengirim mereka ke Ternate disertai sepucuk surat kepada pembesar Portugis di sana, yang isinya antara lain menyatakan bahwa ”rakyat Hitu tidak sudi melihat kembali orang-orang Portugis di tanah mereka”.[17]
Menurut Manusama yang mengutip silsilah lumatau perdana Nusatapi yang dibuat oleh Rhumpius, bahwa perkawinan Jamilu dengan seorang wanita dari jazirah Hitu Barat, melahirkan keturunan masing-masing Abubakar (Healatu), Keling dan Niwelpay. Dari Abubakar lahir cucu laki-laki Jamilu yaitu Tahalele, Tepil, Nani (Daud), Saptu, Latu Lisalaik, Baros, dan seorang cucu wanita yang kawin dengan usen (patiwane II). Dari Tepil, lahir cicit laki-laki Jamilu masing-masing Ariguna (Mihirjiguna), Halaena, Kakiali, Telisima dan tiga cicit wanita. Salah satunya kawin dengan Kimelaha luhu. Dari Saptu lahir cicit lelaki Jamilu, yaitu Tamataela, Sanani dan Rijali.
Menurut M.G. Ohorella,[18] Jamilu juga kawin dengan seorang wanita dari jazirah Hitu Timur yang bernama Resi Alauning. Dari perkawinan ini melahirkan turunan Jamilu di negeri Tulehu dikenal sebagai lumatau latin dengan nama marga Lestaluhu. Perkawinan ini sendiri didahului oleh suatu pertempuran antara pasukan dibawah pimpinan Jamilu melawan pasukan Wai pimpinan Upu Kaihena di hulu sungai Seibara Wai. Setelah Jamilu berhasil mengalahkan pasukan dari Wai kemudian mengajak Upu Kaihena masuk Islam dan meminang putrinya Resi Alauning.
Gelaran kapitan (capitao) yang diberikan kepada Jamilu oleh Portugis secara politis ditolak oleh Perdana Tanihitumessing. Bahkan berakibat timbulnya dendam perdana-perdana Tanihitumessing sampai dibubarkannya uli Hitu pada tahun 1646 oleh Demmer. Akibat dari semuanya ini adalah terpecahnya masyarakat Hitu secara teritorial genelogis menjadi dua bagian, yaitu kapitan Hitu/perdana Nusatapi terpaksa harus pergi meninggalkan negeri Hitu dan mendirikan suatu tempat pemukiman baru, yang bukan saja bagi aman latingnya, tetapi juga untuk kelompok-kelompok masyarakat Soupele, Olong, dan Mosapal. Negeri yang baru itu oleh Ramphius disebut Hila atau Hitu Baru (New Hitu). Sedangkan kelompok-kelompok masyarakat Waipaliti, Tomu, dan Hunut yang tetap berdomisili di Hitu, sejak saat itu disebut ”Hitu Lama (Old Hitu)”. Kapan tepatnya perpindahan itu mulai terjadi, kurang diketahui dengan pasti. Namun jika dikaitkan pemindahan ini dengan hadirnya orang-orang Portugis untuk pertama kali di Hitu, akan dapat diduga bahwa awal perpindahan itu pada abad XVI. Menurut M.G. Ohorela perpindahan keturunan Jamilu/Perdana Nusatapi oleh Gubernur Belanda Gerald Demmer dilakukan pada tahun 1643. Keturunan perdana Nusatapi yang mendiami Hila, sampai saat ini masih tetap memakai marga lating (Nusatapi).
Tokoh lain dari lumatau perdana Nusatapi adalah Imam Rijali, anak dari Saptu, cucu dari Abubakar. Rijali atau lebih dikenal dengan sebutan Imam Rijali adalah juru tulis Tepil maupun Kakiali dan dengan pengalamannya ini telah mengantarnya untuk membuat sebuah karya momental berupa karya manuskrip berjudul ”Hikayat Tanah Hitu” yang kini tersimpan dengan baik di Belanda. Imam Rijali bersama Kakiali memimpin perang Hitu I. Bahkan Imam Rijali terlibat langsung sampai perang Hitu II bersama Telukibessi dari Perdana Tanahitumessing. Ketika Kakiali melawan Belanda pada Perang Hitu I, Imam Rijali bersama 30 anak orang kaya Hitu diutus untuk menemui Raja Gowa. Perjalanan ke Gowa (Makassar) bahkan dilakukan beberapa kali, menyebabkan hubungan dengan karaeng Patingaloan, mangkubumi Kerajaan Gowa semakin akrab, bahkan Imam Rijali setempat tinggal serumah dengan Patingaloan, sehingga dari hubungan ini, dan atas dorongan serta fasilitas yang diberikan oleh Karaeng Patingaloan, Imam Rijali berhasil menulis ”Hikayat Tanah Hitu”.
Sekitar tahun 1600-an Imam Rijali berkesempatan menuntut ilmu agama di pesantren Giri (Gresik). Dengan sejumlah pengalaman ini, maka tidak mengherankan jika banyak julukan yang diberikan kepadanya, antara lain: Pejuang Besar (Keuning), Pahlawan, Pengarang, dan sastrawan (W.A Saleky), Pemimpin perlawanan Belanda (Manusama), Anggota Gerakan awah Tanah (E. Utrecht), Pahlawan Sejarawan dan Pelaku Sejarah (M.G. Ohorela), Penulis Sejarah dan Pencinta Tanah Air (H.J. de Graff), Pejuang yang gigih (Ziwar Effendi), dan lain-lain.
Karya monumtalnya ”Hikayat Tanah Hitu” telah menjadi rujukan bagi penulis disertasi maupun karya ilmiah lainnya, anatara lain oleh, Ernst Utrecht yang menulis tentang ”Ambon Kolonialisatie, dekolonisatie en neo koloniasatie” (1972), J. Keuning tentang Ambonezzen, Portugezen en Nederlandes Ambon’s geschidemis tat het eende van de zeventiende eeuw (1956), H.J. de Graff yang menulis tentang De Geschidermis van Ambon en de Zuid Molukken” (1977) dan Z.J. Manusama yang pada tahun 1977 menulis disertasi dengan judul ”Hikayat Tanah Hitu, Historie en Sociale structur van de Ambonse eilande in het algemeen en van uli Hitu in het bijzonder tot het midden der zeventiende eeuw dan lain-lain.
Walaupun tempat dan waktu meninggalnya tidak diketahui pasti, tapi diperkirakan Rijali meninggal di Tanah Makassar pada penghujung abad XVII.
d. Pati Tuban
Perdana dari lumatau pati Tuban adalah Pati Putih menantu perdana Jamilu. Di awal abad XVI, atas kesepakatan para perdana kerajaan Hitu, Pati Putih diutus ke Jawa untuk mempelajari agama Islam. Di Jawa Pati Putih bertemu dengan Sultan ternate Zainal Abidin, dan berhasil membuat perjanjian kerjasama antara kerajaan Ternate dan kerajaan Hitu yang dilandasi oleh nilai-nilai agama Islam.[19]
Pati Tuban gugur dalam pertempuran melawan orang-orang Portugis, dan sebagai penghormatan diberi gelar ”Maulana”, orang yang memiliki derajat kehormatan yang tinggi.[20] Putranya Patilima mengganti posisi ayahnya sebagai perdana dari lumatau Tanahitumessing berperang melawan Portugis pimpinan Andre Portado de Mandoza yang berakibat mereka berdua ditangkap dan dibawa ke Tidore kemudian kepala mereka dipenggal.[21] Untuk menggantikan posisi Patilima diangatlah putra tertuanya Healatu sebagai Pati Tuban.
Posisi Healatu sebagai perdana Pati Tuban kemudian dilanjutkan oleh Braim-Ela (Ibrahim-Ela?), putra dari Patiraja saudara Pati Tuban pada tahun 1637, lebih dikenal sebagai ”Imam Kerajaan Hitu”. Keterlibatan dalam pertempuran di benteng Kapahaha menyebabkan Braim-Ela termasuk di antara tokoh-tokoh kerajaan Hitu yang dibuang oleh Belanda ke Jawa pada tahun 1646. Termasuk dalam kelompok tokoh-tokoh kerajaan Hitu yang dibuang ke Jawa adalah Kelisa, kemenakan Braim-Ela anak tertua dari saudaranya Healatu. Kelisa adalah tokoh-tokoh dari lumatau Pati Tuban dibuang ke Jawa, maka Belanda (kompeni) mengangkat adik laki-laki Kelisa yang bernama Pati Tua sebagai kepala kampung Olong di Hila.[22] terlihat betapa kuatnya strategi belanda untuk mengahncurkan sistem persekutuan geneologi dengan cara membentuk teritorial baru yang bernama ”kampung Olong”. Sebuah persekutuan berdasar teritorial yang sebenarnya tidak terdapat dalam kerajaan Hitu. Selain itu pembentuk kampung Olong dan menganngkat Pati Tua sebagai kepala kampung berindikasi kuat adanya usaha Belanda.
Jumat, putra dari Tuwayl adik laki-laki Healatu menurut Rijali[23] adalah pejuang utama dari Hitu, dan untuk jasa-jasa perjuangannya ia mendapat lambang/pangkat ”patiwane”[24], dan pangkat ini menurun pada putranya Usen, atau Pati Usen, yang bersama Kakiali dari lumatau perdana Nusatapi dan kemudian Telukabesi dari lumatau perdana Tanahitumessing berperang melawan Belanda (kompeni).
Usen yang mendapat lambang/pangkat ”Patiwane II” menikah dengan saudara perempuan Tepil dari lumatau perdana Nusatapi. Usen juga adalah pemimpin ekspedisi pertama rombongan kerajaan Hitu ke Makassar untuk meminta bantuan dari Kerajaan Gowa. Ia tewas pada tanggal 11 Januari 1645 ketika terlibat pertembuan di laut antara Hitu dan pulau Seram melawan Belanda. Pemimpin patroli Belanda, perwira cadangan Cornelis Diks Sipar juga tewas dalam pertempuran tersebut.[25]
Pemerintahan sistem Adat yang dapat ditemui sampai saat ini di pulau Ambon, selain di Kecamatan Leihitu juga dapat dijumpai hampir semua desa dalam lima wilayah kecamatan di Kota Ambon. Umpamanya pada pemerintahan sistem adat di Kecamatan Sirimau antara lain di negeri/desa Batumerah yang terletak di pusat Kota Ambon dan merupakan negeri/desa Islam. Disebut desa atau pemerintahan sistem adat karena pemimpin (raja) dan masyarakatnya sampai saat ini masih memberlakukan hukum adat dalam pemerintahannya, selain melaksanakan UU Nomor 5 Tahun 1979 tentang Penyelenggaraan Sistem Pemerintahan Desa Kepala pemerintahan desa selain bergelar kepala desa juga bergelar “raja” yang dijabat secara turun-temurun. Hukum adat mengharuskan seorang raja atau kepala desa sebelum memangku jabatannya harus dikukuhkan secara adat dengan ritual keagamaan secara Islam bagi desa yang mayoritas atau kepala desanya beragama Islam begitupun sebaliknya. Kemudian disusul dengan upacara pelantikan sesuai tatacara dalam sistim pemerintahan negara Republik Indonesia. Hal yang sama juga berlaku di Desa Paso yang terletak di Kecamatan Teluk Ambon Baguala Kota Ambon dan mayoritas penduduknya serta Kepala Desa/Raja-nya beragama Kristen.
Dalam pemerintahan sistem adat dikenal jabatan maupun lembaga desa yang masing-masing memiliki tugas yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem adat dalam desa tersebut. Selain raja yang melaksanakan tugas-tugas eksekutif pemerintahan, juga dibantu oleh Saniri negeri yang bersama raja merumuskan dan melaksanakan fungsi-fungsi legislatif maupun yudikatif. Selain itu pula terdapat jabatan yang dinamakan kepala soa. yang biasanya dipercayakan raja sebagai soa jaga ketika raja tidak berada di tempat untuk waktu yang cukup lama.
Jabatan lain yang dapat ditemui dalam pemerintahan sistem adat adalah Kepala Adat atau biasa juga disebut Tetua Adat yang bertugas meminpin upacara-upacara adat termasuk ritual keagaman, Kewang atau semacam polisi kehutanan juga merupakan jabatan adat yang bertugas menjaga keamanan dan kelestarian hutan dan produksinya serta dapat memberi sanksi bagi mereka yang melanggar aturan sasi, yaitu aturan tentang larangan mengambil hasil produksi hutan atau kebun maupun laut dalam rentang waktu tertentu walaupun dari kebun miliknya sendiri. Jabatan lain adalah marinyo yang bertugas mengundang atau menyampaikan pesan-pesan raja atupun putusan saniri negeri terhadap penduduk negeri/desa. Tidak kalah pentingnya adalah jabatan kapitan yang berkedudukan sebagai panglima perang yang bertugas menjaga keamanan negeri/Desa.
Kenyataan ini apabila tidak dapat diapresiasi dengan baik oleh kelompok pendatang, maka mudah sekali terjadi konflik horizontal, yang terkadang melebar menjadi konflik berbau Sara.
[1]Manusama, Disertasi, op. cit.
[2]Manusama, Disertasi, ibid, h. 161.
[3]Kata galaran lebih popular di Makassar tempat Rijali menulis karyanya, sekaligus memasukkan istilah tersebut dalam struktur bawahan pemerintahan akar Upu Hata
[4]Apakah yang dimaksud oleh Rhumpius adalah Sepamole, perdana pertama dari Tanahitumesseng yang meninggal ketika bertempur melawan Portugis pimpinan Dego Lopez de Azavedeo pada tahun 1538, kurang begitu jelas. Imam Rijali ketika mengisahkan adanya kesepakatan Empat Perdana (Upu Hata) untuk mengangkat seorang raja, tidak menyebut secara langsung nama raja tersebut. Seperti dalam Alkisah X beliau menyebutkan bahwa: . . . lalu dinaikkan kaum keluarganya seorang akan kerajaan. Maka digelar Latu Sitania , ya’ni artinya raja tanya, nama yang dijunjung dan dinaikkan hokum Abubakar Nasedeki namanya. Maka suatupun tiada illat dalam Tanahitu. Sekilas terlihat sepertinya Abubakar Nasediki adalah raja, tapi beliau adalah putra Perdana Jamilu dari Lumatau Latim, sementara jabatan reja harus dari Lumatau Waipalit. Selain itu Abubakar Nasediki telah menjabat sebagai hokum dan pada tahun 1569 setelah meninggal ayahnya, Jamilu, beliau naik menggantikan ayahnya sebagai Perdana Nusatapi dengan nama populer Healatu..
[5]Sebenarnya secara tidak langsung Leirissa ingin mengintrodusir suatu kenyataan bahwa salah satu misi bangsa Eropa ke pulau Ambon (Tanahitu) adalah mengambil sebanyak mungkin hasil rempah-rempah (Gold), membangun kekuatan (Glory). dan menyebarkan agama (Gospel). Lihat Rizard Z. Leirissa, Maluku Dalam Perjuangan,Op. Cit., h. 25. Bahkan Tri Ratnawati ketika mengutip pendapat J.S. Furnivall yang menulis tentang Netherlands India mengatakan bahwa keuntungan ekonomi dari perdagangan rempah-rempah, terutama dari cengkeh, merupakan faktor penting yang telah menyebabkan Portugis, Spanyol, Inggris dan akhirnya Belanda datang, dan menyebabkan terjadinya penjajahan Barat di Kepulauan Maluku selama empat abad. Agama, pendidikan dan politik sangat berkaitan erat selama periode penjajahan Belanda di Maluku. Lihat Tri Ratnawati, Mencari Kedamaian di Maluku; Suatu Pendekatan Politis Historis, dalam Konflik Komunal di Indonesia Saat ini, selanjutnya disebut Konflik Komunal, Leiden-Jakarta: INIS dan PBB, 2003, h. 25 Menurut Manusama, Perdana Tanahitumesen tidak menyetujui adanya jabatan kapitan. Olehnya itu ketika Jamilu, Perdana Nusatapi menerima jabatan tersebut maka terjadilah perselisihan diantara kedua belah pihak yang menyebabkan Perdana Nusatapi meninggalkan pusat kerajaan Tanahitu yaitu Hitu dengan mengikutkan keluarga Soupele, Olong dan Mosapal, kemudian membangun pemukiman baru yang bernama ”Hila” atau ”Hitu Baru” (New Hitu). Sedangkan yang tinggal di pusat kerajaan Tanahitu adalah keluarga Waipaliti, Tomu, dan Hunut, yang kemudian disebut ”Hitu Lama”. Lihat Manusama, Disertasi, op.cit, h. 55. Dalam konteks ini Potugis telah berhasil memainkan peran politik diveda et empera atau politik memecah belah untuk membangun kekuatannya.
[6]Penamaan masjid ”Tujuh pangkat” boleh jadi terkait dengan aliansi yang terbentuk diantara penduduk asli dan kaum pendatang yang jumlahnya kemudian menjadi tujuh atau menggambarkan tujuh Uli yang berkuasa di Tanahitu dan masing-masing memiliki pemimpin (pemuka agama). Seperti yang diuraikan terdahulu bahwa masjid ini memiliki atap bersusun tujuh.
[7]Manusama, Disertasi, op.cit. h. 163.
[8]Tim Penerbit Profil Propensi Republik Indonesia, Maluku, selanjutnya disebut Maluku, Jakarta: Yayasan Bhakti Wawasan Nusantara, 1992, h. 8.
[9]Untuk menyebutkan Hitulama dan Hitubaru (Hila) lihat footnote 20. Dalam perkembangan selanjutnya, Hitulama terbagi kepada dua bagian atau “negeri”, yaitu hitulama dan Hitumessing, yang pertama berdiri di bawah “raja”, dan yang kedua di bawah “orang kaya”. Menurut manusama, Tomu berada di bawah “raja”, dan Hunut di bawah “orang kaya”. Lihat Manusama, “Disertasi”, op.cit, h. 74.
[10]I.O. Nanulaita, Timbulnya Militerisme Ambon, sebagai Suatu Persoalan Politik, Sosial, Ekonomi. Selanjutnya disebut “Militerisme Ambon”, Jakarta: Bharata, 1966, h. 80.
[11]Manusama, “Disertasi”, op.cit, h. 170.
[12]J.E. Heeres, Corpus Diplimaticum Neerlando Indicum, Verzameling Van Politieke Contracten en Verdere Verdragen door de Nederlanders in hat oosten gesloten, van Privilege-briven, aan hen verleend, enz Bijdragen tot de Taal- Land-en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie LVII 7e Volgreeks III 1907 le deel (1596-1650) 1907:297-303.
[13]Tubanbesi, terdiri dari dua kata, Tuban sama dengan Jawa, besi berarti besi. Tubanbesi berarti orang yang terkuat (seperti besi) yang berasal (pernah) ke Jawa.
[14]Lukululi terdiri dari dua kata luku yang berarti penghancuran dan luli berarti tulang. Lukululi berarti penghancur tulang
[15]Fransisco Serrao adalah pemimpin ekspedisi pertama orang-orang Potugis yang pada tahun 1512 telah mendarat di wilayah utara pulau Ambon yang lebih dikenal dengan Hitu. Lihat Willard A. Hanna, Indonesia Banda, Colonialism and Its Aftermath in the Nuterg Islands selanjutnya disebut Indonesia Banda (t.tp, t.th), h. 7. Lihat juga M.C. Ricklefs, “A history of Modern Indonesia”. Alih bahasa oleh Drs. Dharmono Hardjowidjono, Sejarah Indonesia Modern, Jogjakarta: Gadja MadaUniversity Press, 1994, h. 35.
[16]Paramita R. Abdurrahman, “Peninggalan-peninggalan Yang berciri Portugis di Ambon, dalam C.P.F. Luhulima (ed.), Bunga Rampai sejarah Maluku, Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 1973, h. 80.
[17]Paramita R. Abdurrahman, ibid, h. 67.
[18]M.G. Ohorella, “Usul Supaya Rijali Diangkat sebagai Pahlawan Nasional”, Naskah Lepas selanjutnya disebut Naskah Lepas, 1994, h. 5.
[19]Manusama, “Disertasi, op.cit, h. 163
[20]Rhumpius, handschrift K.A: 1700, op.cit., h. 20
[21]Manusama, “Disertasi”, op.cit., h. 64.
[22]Manusama, “Disertasi”, op.cit.
[24]Patiwane terdiri dari dua suku kata, Pati atau Patty dan Wani (e) atau Wawani (e). Pati berarti berani dan boleh jadi kata ini berasal dari kata fatah (bahasa Arab) yang menggambarkan keberanian dan kemenangan. Sedangkan kata wani atau Wawani adalah nama sebuah bukit yang terletak anatara desa Seit, desa Kaitetu, dan desa Hila, Kecamatan Leihitu ang waktu dulu dipakai sebagai banteng pertahanan pejuang-pejuang Hitu ketika melawan Belada pada Perang hitu I (1634-1643). Jadi “Patiwani” dapat berarti pemimpin banteng Wawani yang gagah berani.
[25]Manusama, “Disertasi”, op.cit., h. 66.
Thanks Adeku/...
BalasHapusTerus berbuat tuk Negri tercintamu...
Masih mau di tambah lagi dari yang lain..